NAUALU.my.id • Merekam Cerita, Menyusuri Jejak, Mengabarkan Inspirasi
f▶◎♪
⚡ BERITA TERKINI
Informasi terbaru Tapanuli Utara • Peristiwa • Pemerintahan • Wisata • Budaya • Kuliner

Dari Kursi Bupati ke Catatan Sejarah: Membaca Legacy Nikson Nababan




TARUTUNG — Sepuluh tahun berada di puncak pemerintahan Kabupaten Tapanuli Utara membuat nama Nikson Nababan menjadi bagian dari salah satu periode penting dalam perjalanan daerah ini. Ia menjabat sebagai Bupati Tapanuli Utara selama dua periode, 2014–2019 dan 2019–2024. Setelah masa jabatannya berakhir, pertanyaan yang lebih panjang kemudian muncul: apa yang tersisa dari satu dekade kepemimpinannya, dan bagaimana jejak tersebut akan dibaca oleh generasi berikutnya?

Menilai sebuah pemerintahan setelah seorang kepala daerah meninggalkan jabatannya tentu tidak cukup hanya dengan menghitung

proyek yang telah dibangun. Legacy juga berkaitan dengan gagasan, kebijakan, perubahan cara kerja pemerintahan, serta dampak yang masih dapat dirasakan setelah masa jabatan berakhir.

Dari pembangunan fisik hingga gagasan desa sebagai pusat pertumbuhan

Salah satu ciri yang cukup kuat dalam narasi pembangunan pada masa Nikson Nababan adalah perhatian terhadap konektivitas desa dan infrastruktur.

Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara mencatat bahwa sejak 2014 pembangunan jalan dan jembatan menjadi salah satu prioritas. Data yang dipublikasikan Pemkab mencatat hingga 2021 terdapat 324,53 kilometer jalan hotmix, 339,33 kilometer lapen, 70,59 kilometer telford, serta 18,972 kilometer cor/rabat beton yang dibangun atau ditingkatkan. Pemerintah daerah ketika itu mengaitkannya dengan tujuan membuka akses kawasan pertanian dan menghubungkan desa dengan pusat perkotaan. �

Pemerintah Kabupaten Taput

Gagasan tersebut kemudian sering dirangkum dalam konsep “desa kuat, kota maju”—bahwa pembangunan tidak semestinya hanya berpusat di ibu kota kabupaten, tetapi dimulai dari desa sebagai basis produksi.

Dalam refleksi delapan tahun pemerintahannya, Nikson juga menjelaskan bahwa pembangunan diarahkan pada pertanian, pendidikan, kesehatan, infrastruktur, pengembangan desa dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. �

Antara News Sumatera Utara

Silangit dan mimpi membuka konektivitas

Salah satu bagian yang paling sering dikaitkan dengan periode kepemimpinan Nikson adalah perkembangan Bandara Silangit.

Dalam refleksi yang dipublikasikan ANTARA, Nikson menyebut mempertahankan dan mengembangkan Bandara Silangit sebagai salah satu perjuangan penting selama masa pemerintahannya. Ketika ada kekhawatiran mengenai keberlanjutan pengelolaan bandara, ia mendorong agar Silangit tetap menjadi bandara komersial karena melihat konektivitas udara sebagai bagian penting bagi perekonomian Tapanuli Utara dan kawasan Danau Toba. �

Antara News Sumatera Utara

Terlepas dari bagaimana kontribusi setiap pihak kemudian dinilai secara historis, perkembangan Silangit menjadi salah satu perubahan yang penting dalam konteks aksesibilitas kawasan Tapanuli.

Bandara bukan sekadar infrastruktur transportasi. Bagi daerah seperti Tapanuli Utara, konektivitas juga berhubungan dengan pariwisata, investasi, mobilitas masyarakat dan peluang ekonomi.

Membangun manusia, bukan hanya jalan

Legacy sebuah pemerintahan juga dapat dilihat dari investasi terhadap sumber daya manusia.

Salah satu program yang mendapat perhatian adalah pelatihan bahasa Jerman dan program Ausbildung. Pada 2024, Detik melaporkan bahwa enam peserta dari Tapanuli Utara telah memperoleh pekerjaan di Jerman setelah mengikuti program tersebut. �

detikcom

Program seperti ini menarik karena menunjukkan pendekatan pembangunan yang tidak berhenti pada pembangunan fisik. Pendidikan dan keterampilan diarahkan agar generasi muda memiliki akses terhadap kesempatan kerja di luar daerah bahkan di luar negeri.

Di sisi lain, dukungan terhadap kegiatan kepemudaan juga menjadi bagian dari rekam jejaknya. Pada 2024, Nikson menerima KNPI Award sebagai kepala daerah yang dinilai peduli terhadap pemuda. Penghargaan tersebut diberikan berdasarkan kontribusinya terhadap kegiatan kepemudaan selama masa pemerintahannya. �

detikcom

Setelah pensiun dari jabatan bupati

Berakhirnya masa jabatan pada 2024 tidak membuat Nikson Nababan sepenuhnya keluar dari ruang publik.

Pada 2026, ia masih muncul dalam sejumlah pemberitaan dan kegiatan yang berkaitan dengan Tapanuli Utara. Bahkan dalam kegiatan Bimbingan Teknis Sistem Informasi Kearsipan Nasional pada September 2026, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara mengundang Nikson bersama mantan Bupati RE Nainggolan sebagai bagian dari penghargaan terhadap rekam jejak kepemimpinan dan sejarah pemerintahan daerah. �

Pemerintah Kabupaten Taput

Kehadiran mantan kepala daerah dalam kegiatan semacam itu menunjukkan bahwa setelah seseorang meninggalkan jabatan, rekam pemerintahannya tetap menjadi bagian dari memori kelembagaan daerah.

Nikson juga masih memberikan tanggapan terhadap sejumlah persoalan publik yang berkaitan dengan masa pemerintahannya. Misalnya pada Juli 2026, ia memberikan klarifikasi mengenai pemberitaan yang mengaitkan dirinya dengan persoalan PAD dari pemanfaatan lahan Bandara Silangit. Dalam pemberitaan tersebut, Nikson menyampaikan versinya bahwa kontribusi telah disetorkan ke kas daerah. Pernyataan itu merupakan klarifikasi dari Nikson dan perlu dibedakan dari kesimpulan hukum independen mengenai persoalan tersebut. �

Hastara.id

Legacy yang masih terbuka untuk dinilai

Legacy Nikson Nababan pada akhirnya bukan sesuatu yang selesai ketika masa jabatan berakhir.

Jalan yang dibangun akan terus digunakan. Infrastruktur yang telah tersedia akan terus menjadi bagian dari aktivitas masyarakat. Generasi muda yang memperoleh pendidikan dan keterampilan akan membawa pengalaman tersebut ke tempat mereka masing-masing. Sementara gagasan tentang desa, pertanian, konektivitas dan pembangunan sumber daya manusia akan terus diuji oleh pemerintahan berikutnya.

Bahkan sebelum masa jabatannya berakhir, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara telah menggelar sosialisasi Memoar Legacy Akhir Masa Jabatan Bupati Tapanuli Utara 2014–2024. �

Suaratani

Namun, sejarah daerah tidak ditulis hanya oleh pemerintah yang sedang berkuasa. Waktu, masyarakat dan generasi berikutnya akan menjadi bagian dari proses penilaian yang lebih panjang.

Karena itu, legacy Nikson Nababan dapat dilihat dari beberapa lapisan: infrastruktur, konektivitas, pembangunan desa, pendidikan, pertanian, pelayanan publik, serta gagasan mengenai masa depan sumber daya manusia Tapanuli Utara.

Sebagian capaian tersebut merupakan hasil kerja pemerintah daerah bersama DPRD, pemerintah provinsi, pemerintah pusat, masyarakat, dunia usaha dan berbagai pihak lainnya. Karena itu, pencatatan sejarah pembangunan perlu menempatkan kontribusi seorang kepala daerah dalam konteks kerja bersama tersebut.

Dari jabatan menuju catatan sejarah

Sepuluh tahun merupakan waktu yang panjang dalam perjalanan sebuah kabupaten.

Nikson Nababan datang ke pemerintahan pada 2014 dengan gagasan perubahan dan meninggalkan jabatan pada 2024 dengan berbagai program, pembangunan dan kebijakan yang menjadi bagian dari catatan Tapanuli Utara.

Kini, setelah ia tidak lagi menjadi bupati, ruang untuk melihat perjalanan tersebut justru menjadi lebih luas.

Bukan lagi sekadar melihat apa yang dilakukan seorang kepala daerah ketika berkuasa, tetapi melihat apa yang tetap bertahan setelah kekuasaan itu berakhir.

Sebab pada akhirnya, legacy seorang pemimpin bukan hanya tentang namanya yang tercatat dalam dokumen pemerintahan. Legacy juga tentang jalan yang masih dilalui, kesempatan yang masih terbuka, gagasan yang masih dibicarakan, dan perubahan yang masih dirasakan masyarakat.

Dan untuk Tapanuli Utara, kisah satu dekade Nikson Nababan kini menjadi bagian dari sejarah yang masih terus berjalan.

Nikson Nababan dan Jejak Pembangunan Tapanuli Utara

TARUTUNG — Nama Nikson Nababan merupakan salah satu tokoh yang cukup menonjol dalam perjalanan pemerintahan dan kehidupan publik Tapanuli Utara dalam satu dekade terakhir. Putra Siborongborong ini pernah menjabat sebagai Bupati Tapanuli Utara selama dua periode, yakni 2014–2019 dan 2019–2024. �

BPK Sumut +1

Lahir di Siborongborong pada 5 Oktober 1972, perjalanan Nikson sebelum memasuki pemerintahan tidak langsung dimulai dari dunia politik. Ia menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD/APMD) Yogyakarta dan kemudian memiliki pengalaman sebagai wartawan di Media Indonesia. �

Antara News Sumatera Utara +1

Dari dunia jurnalistik ke pemerintahan

Pengalaman di dunia jurnalistik menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan profesional Nikson Nababan. Setelah berkarier sebagai wartawan, ia kemudian terlibat dalam dunia usaha dan pengelolaan media. Detik mencatat bahwa sebelum menjadi bupati, Nikson pernah menjadi pimpinan Majalah Bona Ni Pinasa, pendiri Tabloid Sumut News, Direktur Utama PT Hasbin Inti Karya, serta Komisaris Surat Kabar Harian Palapa Pos. �

detikcom

Perjalanan tersebut kemudian membawanya ke pemerintahan daerah. Ia terpilih sebagai Bupati Tapanuli Utara dan kembali terpilih untuk periode kedua sehingga memimpin kabupaten tersebut selama 10 tahun. �

BPK Sumut +1

Pembangunan dan gagasan tentang desa

Dalam berbagai kesempatan, Nikson mengemukakan gagasan mengenai penguatan desa dan pembangunan berbasis potensi lokal. Salah satu gagasan yang kemudian dituangkan dalam buku adalah “Desa Kuat, Kota Maju, Negara Berdikari.” �

detikcom

Sejumlah pemberitaan mengenai masa kepemimpinannya juga menyoroti pembangunan infrastruktur, pengembangan pertanian serta upaya pemanfaatan lahan yang sebelumnya kurang produktif. Detik, misalnya, memberitakan mengenai pemanfaatan lahan rawa di wilayah Tapanuli Utara untuk kegiatan yang lebih produktif. �

detikcom

Penghargaan dan catatan masa kepemimpinan

Pada Agustus 2024, Nikson Nababan menerima penghargaan Outstanding Regional Development Initiator dalam CNN Awards di Medan. Menurut laporan detik.com, penghargaan tersebut diberikan dalam konteks gagasan, inovasi dan program pembangunan daerah selama masa kepemimpinannya. �

detikcom

Dalam laporan yang sama disebutkan bahwa selama periode kepemimpinannya, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas laporan keuangan daerah dari Badan Pemeriksa Keuangan RI. �

detikcom

Setelah tidak lagi menjabat Bupati

Masa jabatan Nikson sebagai Bupati Tapanuli Utara berakhir pada 2024. Setelah itu, ia tetap aktif dalam berbagai kegiatan sosial, organisasi dan diskusi publik. Pada 2024, misalnya, ia terlibat dalam kegiatan Koperasi Keluarga Pers Indonesia dan berbagi pengalaman mengenai pengembangan usaha serta kemandirian ekonomi organisasi. �

Narasikepri

Namanya juga kembali menjadi perhatian publik dalam sejumlah pemberitaan pada 2026, termasuk ketika ia memberikan tanggapan terhadap pemberitaan mengenai pengelolaan PAD dari pemanfaatan lahan Bandara Silangit. Dalam pemberitaan tersebut, Nikson menyampaikan bantahannya dan menjelaskan versinya mengenai status aset serta mekanisme pembayaran PAD. Klaim tersebut merupakan pernyataan dari Nikson dan perlu dibedakan dari temuan atau kesimpulan hukum independen. �

Sumut Suarana.com

Jejak seorang putra Siborongborong

Perjalanan Nikson Nababan memperlihatkan lintasan karier yang cukup panjang: dari putra Siborongborong, mahasiswa, wartawan, pengusaha, hingga kepala daerah. Sepuluh tahun kepemimpinannya sebagai Bupati Tapanuli Utara menjadi salah satu periode yang dapat dicatat dalam sejarah pemerintahan daerah tersebut.

Kini, berbagai kebijakan, pembangunan dan gagasan yang muncul selama periode tersebut menjadi bagian dari catatan perjalanan Tapanuli Utara. Bagi generasi berikutnya, kisah tersebut dapat dilihat sebagai bahan untuk memahami bagaimana seorang putra daerah menempuh perjalanan dari dunia jurnalistik dan usaha hingga memasuki panggung pemerintahan.



Tuan Manullang, Putra Tarutung yang Menjadikan Pers sebagai Jalan Perjuangan

 


Tuan Manullang, Putra Tarutung yang Menjadikan Pers sebagai Jalan Perjuangan

TARUTUNG — Nama Mangihut Mangaradja Hezekiel Manullang atau yang lebih dikenal sebagai Tuan Manullang menjadi bagian penting dalam sejarah perkembangan pers dan perjuangan masyarakat Batak pada awal abad ke-20.

Lahir di Tarutung pada 20 Desember 1887, Tuan Manullang tumbuh dalam lingkungan pendidikan dan pemikiran yang kemudian membawanya menjadi salah satu tokoh pers dari Tapanuli. Ia pernah menempuh pendidikan di Sekolah Raja Narumonda, Porsea, dan melanjutkan pendidikan di Singapura.

Perjalanan hidupnya kemudian banyak diwarnai aktivitas pendidikan, keagamaan, jurnalistik dan perjuangan sosial.

Salah satu jejak pentingnya adalah keterlibatannya dalam dunia pers. Tuan Manullang tercatat sebagai pendiri dan penerbit surat kabar Binsar Sinondang Batak serta kemudian menjadi pemimpin redaksi Soara Batak.

Melalui tulisan dan media yang dipimpinnya, gagasan mengenai pendidikan, kehidupan masyarakat, kebudayaan dan perjuangan disampaikan kepada masyarakat luas.

Pada masa ketika akses masyarakat terhadap informasi masih sangat terbatas, pers memiliki peran penting sebagai ruang untuk menyampaikan gagasan dan membangun kesadaran.

Karena itu, perjalanan Tuan Manullang tidak hanya menarik dilihat sebagai sejarah seorang jurnalis, tetapi juga sebagai bagian dari perjalanan intelektual masyarakat Tapanuli.

Tuan Manullang meninggal dunia di Jakarta pada 20 April 1979 dan kemudian dimakamkan di Tarutung.

Jejaknya mengingatkan generasi sekarang bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari kekuasaan. Perubahan juga dapat lahir dari pendidikan, tulisan dan keberanian menyampaikan gagasan.

Bagi Tapanuli Utara, kisah Tuan Manullang menjadi bagian dari warisan sejarah yang menunjukkan bahwa dari Tarutung pernah lahir seorang tokoh yang menggunakan pena sebagai bagian dari perjuangan.

Warisan terbesar seorang penulis bukan hanya tulisannya, tetapi gagasan yang terus hidup setelah ia tiada.