“Sejak 1957, Kue Putu Ompung Tonny Simorangkir Menjaga Rasa dari Siatas Barita
Kue Putu Ompung Tonny Simorangkir: Jejak Kuliner Siatas Barita Sejak 1957
Siatas Barita, Tapanuli Utara — Di tengah perubahan selera dan munculnya berbagai jajanan modern, sebuah kuliner tradisional dari Siatas Barita, Tapanuli Utara, masih mempertahankan keberadaannya. Namanya Kue Putu Ompung Tonny Simorangkir, salah satu usaha kuliner yang dikenal sebagai bagian dari tradisi jajanan khas kawasan Tarutung.
Menurut laporan Tobaria yang terbit pada Juni 2021, usaha Kue Putu Ompung Tonny Simorangkir disebut telah berdiri sejak tahun 1957. Usaha tersebut berada di Jalan Marhusa Panggabean No. 44, Desa Siatas Barita, Tarutung. Setelah Ompung Tonny Simorangkir meninggal dunia, usaha tersebut kemudian diteruskan oleh menantunya, Lena Sibarani, sejak 2001.
Artinya, kisah kue putu ini bukan sekadar tentang makanan, tetapi juga tentang bagaimana sebuah usaha rumahan dapat diteruskan lintas generasi.
Kue Putu yang Berbeda dari Umumnya
Kue putu yang dikenal di Siatas Barita memiliki karakter yang cukup berbeda dari gambaran kue putu yang banyak dikenal masyarakat Indonesia.
Batakita pada 2022 menggambarkan kue putu Simorangkir sebagai makanan berbentuk seperti mangkuk, dengan dua ciri warna yang menonjol, yaitu putih dan cokelat. Warna tersebut juga berkaitan dengan varian rasa yang digunakan.
Varian putih menggunakan gula putih, sementara varian cokelat menggunakan gula merah. Perpaduan tersebut menghasilkan rasa manis yang menjadi salah satu ciri khas kue putu ini.
Bentuknya yang khas dan cara penyajiannya membuat kue putu ini mudah dikenali oleh masyarakat yang sudah lama mengenalnya.
Resep yang Dipertahankan
Menurut keterangan Lena Sibarani yang dikutip Tobaria, resep kue putu yang dibuatnya masih mengikuti resep yang diwariskan dari mertuanya, Ompung Tonny Simorangkir. Ia juga menyampaikan keinginannya untuk terus mempertahankan usaha tersebut karena masih memiliki pelanggan tetap dan masih dikunjungi pembeli dari luar daerah.
Bahan dasar yang diberitakan antara lain beras putih dan beras ketan yang digiling menjadi tepung, kemudian dicampur dengan gula putih atau gula merah serta garam secukupnya. Setelah adonan dibentuk, proses pematangan dilakukan dengan cara dikukus.
Proses yang sederhana tersebut justru menjadi bagian dari karakter makanan tradisional ini.
Dari Jajanan Harian Menjadi Oleh-Oleh
Pada masa lalu, kue putu disebut cukup dikenal sebagai bekal maupun oleh-oleh bagi masyarakat yang bepergian atau para perantau yang datang dan kembali dari Tarutung.
Lokasinya di Siatas Barita juga membuat kue putu ini berada dalam jalur yang dikenal oleh masyarakat maupun pengunjung yang menuju kawasan wisata Salib Kasih. Batakita melaporkan bahwa wisatawan yang berkunjung ke Salib Kasih maupun masyarakat yang pulang kampung kerap menyempatkan diri membeli kue putu tersebut sebagai oleh-oleh.
Dengan demikian, kue putu tidak hanya menjadi makanan untuk dinikmati sendiri, tetapi juga bagian dari pengalaman membawa pulang sesuatu yang khas dari Tapanuli Utara.
Bertahan di Tengah Perubahan Selera
Mempertahankan makanan tradisional bukan perkara mudah.
Laporan Tobaria mencatat bahwa peminat kue putu mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Salah satu tantangannya adalah semakin banyaknya jajanan modern dengan beragam bahan, bentuk, dan rasa.
Namun, usaha ini tetap berjalan. Pada saat laporan tersebut dibuat, produksi disebut mencapai sekitar 40–50 mangkuk per hari, dengan dua pilihan rasa, yaitu gula putih dan gula merah.
Sementara itu, Batakita mencatat bahwa pada periode tertentu penjualan bahkan dapat mencapai sekitar 500–600 potong per hari. Perbedaan angka tersebut kemungkinan mencerminkan kondisi produksi atau periode penjualan yang berbeda, sehingga angka tersebut sebaiknya tidak dianggap sebagai kapasitas produksi tetap.
Lebih dari Sekadar Kue
Kisah Kue Putu Ompung Tonny Simorangkir memperlihatkan bahwa kuliner tradisional dapat menjadi bagian dari sejarah sosial sebuah daerah.
Sejak disebut mulai dirintis pada 1957, usaha ini telah melewati perubahan zaman dan kemudian diteruskan kepada generasi berikutnya. Pada 2001, Lena Sibarani mengambil alih kelanjutan usaha tersebut dan mempertahankan resep yang diwariskan oleh mertuanya.
Di situlah nilai pentingnya.
Sebuah makanan tradisional tidak hanya menyimpan rasa, tetapi juga menyimpan cerita keluarga, keterampilan membuat makanan, kebiasaan masyarakat, dan ingatan tentang suatu tempat.
Warisan Rasa dari Siatas Barita
Kue Putu Ompung Tonny Simorangkir menjadi salah satu contoh bagaimana kuliner sederhana dapat bertahan ketika ada generasi yang bersedia meneruskannya.
Dari sebuah usaha yang menurut pemberitaan telah berdiri sejak 1957, kue putu ini terus menjadi bagian dari kuliner Tarutung dan Siatas Barita.
Bagi masyarakat Tapanuli Utara, keberadaan makanan seperti ini patut dilihat bukan hanya sebagai peluang usaha, tetapi juga sebagai bagian dari warisan kuliner lokal.
Sebab ketika sebuah resep berhenti dibuat, yang hilang bukan hanya sebuah makanan.
Yang ikut hilang bisa jadi adalah sepotong cerita tentang kampung halaman.
Catatan sumber:
Artikel ini disusun berdasarkan pemberitaan Tobaria, 21 Juni 2021, yang secara spesifik menyebut Kue Putu Ompung Tonny Simorangkir berdiri sejak 1957, serta pemberitaan Batakita, 30 Agustus 2022, mengenai Kue Putu Simorangkir khas Tapanuli Utara. Klaim tahun 1957 dalam artikel ini diposisikan sebagai informasi yang diberitakan oleh kedua sumber tersebut, bukan sebagai hasil verifikasi arsip pendirian usaha.


Komentar
Posting Komentar