NAUALU.my.id • Merekam Cerita, Menyusuri Jejak, Mengabarkan Inspirasi
f▶◎♪
⚡ BERITA TERKINI
Informasi terbaru Tapanuli Utara • Peristiwa • Pemerintahan • Wisata • Budaya • Kuliner

PASANG IKLAN DISINI — ATAS

PASANG IKLAN DISINI

HUBUNGI KAMI

PASANG IKLAN DISINI — DALAM ARTIKEL

PASANG IKLAN DISINI
HUBUNGI KAMI
Beranda › NAUALU: Hasil penelusuran untuk Harian

Nikson Nababan dan Jejak Pembangunan Tapanuli Utara

TARUTUNG — Nama Nikson Nababan merupakan salah satu tokoh yang cukup menonjol dalam perjalanan pemerintahan dan kehidupan publik Tapanuli Utara dalam satu dekade terakhir. Putra Siborongborong ini pernah menjabat sebagai Bupati Tapanuli Utara selama dua periode, yakni 2014–2019 dan 2019–2024. �

BPK Sumut +1

Lahir di Siborongborong pada 5 Oktober 1972, perjalanan Nikson sebelum memasuki pemerintahan tidak langsung dimulai dari dunia politik. Ia menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD/APMD) Yogyakarta dan kemudian memiliki pengalaman sebagai wartawan di Media Indonesia. �

Antara News Sumatera Utara +1

Dari dunia jurnalistik ke pemerintahan

Pengalaman di dunia jurnalistik menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan profesional Nikson Nababan. Setelah berkarier sebagai wartawan, ia kemudian terlibat dalam dunia usaha dan pengelolaan media. Detik mencatat bahwa sebelum menjadi bupati, Nikson pernah menjadi pimpinan Majalah Bona Ni Pinasa, pendiri Tabloid Sumut News, Direktur Utama PT Hasbin Inti Karya, serta Komisaris Surat Kabar Harian Palapa Pos. �

detikcom

Perjalanan tersebut kemudian membawanya ke pemerintahan daerah. Ia terpilih sebagai Bupati Tapanuli Utara dan kembali terpilih untuk periode kedua sehingga memimpin kabupaten tersebut selama 10 tahun. �

BPK Sumut +1

Pembangunan dan gagasan tentang desa

Dalam berbagai kesempatan, Nikson mengemukakan gagasan mengenai penguatan desa dan pembangunan berbasis potensi lokal. Salah satu gagasan yang kemudian dituangkan dalam buku adalah “Desa Kuat, Kota Maju, Negara Berdikari.” �

detikcom

Sejumlah pemberitaan mengenai masa kepemimpinannya juga menyoroti pembangunan infrastruktur, pengembangan pertanian serta upaya pemanfaatan lahan yang sebelumnya kurang produktif. Detik, misalnya, memberitakan mengenai pemanfaatan lahan rawa di wilayah Tapanuli Utara untuk kegiatan yang lebih produktif. �

detikcom

Penghargaan dan catatan masa kepemimpinan

Pada Agustus 2024, Nikson Nababan menerima penghargaan Outstanding Regional Development Initiator dalam CNN Awards di Medan. Menurut laporan detik.com, penghargaan tersebut diberikan dalam konteks gagasan, inovasi dan program pembangunan daerah selama masa kepemimpinannya. �

detikcom

Dalam laporan yang sama disebutkan bahwa selama periode kepemimpinannya, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas laporan keuangan daerah dari Badan Pemeriksa Keuangan RI. �

detikcom

Setelah tidak lagi menjabat Bupati

Masa jabatan Nikson sebagai Bupati Tapanuli Utara berakhir pada 2024. Setelah itu, ia tetap aktif dalam berbagai kegiatan sosial, organisasi dan diskusi publik. Pada 2024, misalnya, ia terlibat dalam kegiatan Koperasi Keluarga Pers Indonesia dan berbagi pengalaman mengenai pengembangan usaha serta kemandirian ekonomi organisasi. �

Narasikepri

Namanya juga kembali menjadi perhatian publik dalam sejumlah pemberitaan pada 2026, termasuk ketika ia memberikan tanggapan terhadap pemberitaan mengenai pengelolaan PAD dari pemanfaatan lahan Bandara Silangit. Dalam pemberitaan tersebut, Nikson menyampaikan bantahannya dan menjelaskan versinya mengenai status aset serta mekanisme pembayaran PAD. Klaim tersebut merupakan pernyataan dari Nikson dan perlu dibedakan dari temuan atau kesimpulan hukum independen. �

Sumut Suarana.com

Jejak seorang putra Siborongborong

Perjalanan Nikson Nababan memperlihatkan lintasan karier yang cukup panjang: dari putra Siborongborong, mahasiswa, wartawan, pengusaha, hingga kepala daerah. Sepuluh tahun kepemimpinannya sebagai Bupati Tapanuli Utara menjadi salah satu periode yang dapat dicatat dalam sejarah pemerintahan daerah tersebut.

Kini, berbagai kebijakan, pembangunan dan gagasan yang muncul selama periode tersebut menjadi bagian dari catatan perjalanan Tapanuli Utara. Bagi generasi berikutnya, kisah tersebut dapat dilihat sebagai bahan untuk memahami bagaimana seorang putra daerah menempuh perjalanan dari dunia jurnalistik dan usaha hingga memasuki panggung pemerintahan.



“Sejak 1957, Kue Putu Ompung Tonny Simorangkir Menjaga Rasa dari Siatas Barita

 


Kue Putu Ompung Tonny Simorangkir: Jejak Kuliner Siatas Barita Sejak 1957

Siatas Barita, Tapanuli Utara — Di tengah perubahan selera dan munculnya berbagai jajanan modern, sebuah kuliner tradisional dari Siatas Barita, Tapanuli Utara, masih mempertahankan keberadaannya. Namanya Kue Putu Ompung Tonny Simorangkir, salah satu usaha kuliner yang dikenal sebagai bagian dari tradisi jajanan khas kawasan Tarutung.

Menurut laporan Tobaria yang terbit pada Juni 2021, usaha Kue Putu Ompung Tonny Simorangkir disebut telah berdiri sejak tahun 1957. Usaha tersebut berada di Jalan Marhusa Panggabean No. 44, Desa Siatas Barita, Tarutung. Setelah Ompung Tonny Simorangkir meninggal dunia, usaha tersebut kemudian diteruskan oleh menantunya, Lena Sibarani, sejak 2001.

Artinya, kisah kue putu ini bukan sekadar tentang makanan, tetapi juga tentang bagaimana sebuah usaha rumahan dapat diteruskan lintas generasi.

Kue Putu yang Berbeda dari Umumnya

Kue putu yang dikenal di Siatas Barita memiliki karakter yang cukup berbeda dari gambaran kue putu yang banyak dikenal masyarakat Indonesia.

Batakita pada 2022 menggambarkan kue putu Simorangkir sebagai makanan berbentuk seperti mangkuk, dengan dua ciri warna yang menonjol, yaitu putih dan cokelat. Warna tersebut juga berkaitan dengan varian rasa yang digunakan.

Varian putih menggunakan gula putih, sementara varian cokelat menggunakan gula merah. Perpaduan tersebut menghasilkan rasa manis yang menjadi salah satu ciri khas kue putu ini.

Bentuknya yang khas dan cara penyajiannya membuat kue putu ini mudah dikenali oleh masyarakat yang sudah lama mengenalnya.

Resep yang Dipertahankan

Menurut keterangan Lena Sibarani yang dikutip Tobaria, resep kue putu yang dibuatnya masih mengikuti resep yang diwariskan dari mertuanya, Ompung Tonny Simorangkir. Ia juga menyampaikan keinginannya untuk terus mempertahankan usaha tersebut karena masih memiliki pelanggan tetap dan masih dikunjungi pembeli dari luar daerah.

Bahan dasar yang diberitakan antara lain beras putih dan beras ketan yang digiling menjadi tepung, kemudian dicampur dengan gula putih atau gula merah serta garam secukupnya. Setelah adonan dibentuk, proses pematangan dilakukan dengan cara dikukus.

Proses yang sederhana tersebut justru menjadi bagian dari karakter makanan tradisional ini.



Dari Jajanan Harian Menjadi Oleh-Oleh

Pada masa lalu, kue putu disebut cukup dikenal sebagai bekal maupun oleh-oleh bagi masyarakat yang bepergian atau para perantau yang datang dan kembali dari Tarutung.

Lokasinya di Siatas Barita juga membuat kue putu ini berada dalam jalur yang dikenal oleh masyarakat maupun pengunjung yang menuju kawasan wisata Salib Kasih. Batakita melaporkan bahwa wisatawan yang berkunjung ke Salib Kasih maupun masyarakat yang pulang kampung kerap menyempatkan diri membeli kue putu tersebut sebagai oleh-oleh.

Dengan demikian, kue putu tidak hanya menjadi makanan untuk dinikmati sendiri, tetapi juga bagian dari pengalaman membawa pulang sesuatu yang khas dari Tapanuli Utara.

Bertahan di Tengah Perubahan Selera

Mempertahankan makanan tradisional bukan perkara mudah.

Laporan Tobaria mencatat bahwa peminat kue putu mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Salah satu tantangannya adalah semakin banyaknya jajanan modern dengan beragam bahan, bentuk, dan rasa.

Namun, usaha ini tetap berjalan. Pada saat laporan tersebut dibuat, produksi disebut mencapai sekitar 40–50 mangkuk per hari, dengan dua pilihan rasa, yaitu gula putih dan gula merah.

Sementara itu, Batakita mencatat bahwa pada periode tertentu penjualan bahkan dapat mencapai sekitar 500–600 potong per hari. Perbedaan angka tersebut kemungkinan mencerminkan kondisi produksi atau periode penjualan yang berbeda, sehingga angka tersebut sebaiknya tidak dianggap sebagai kapasitas produksi tetap.

Lebih dari Sekadar Kue

Kisah Kue Putu Ompung Tonny Simorangkir memperlihatkan bahwa kuliner tradisional dapat menjadi bagian dari sejarah sosial sebuah daerah.

Sejak disebut mulai dirintis pada 1957, usaha ini telah melewati perubahan zaman dan kemudian diteruskan kepada generasi berikutnya. Pada 2001, Lena Sibarani mengambil alih kelanjutan usaha tersebut dan mempertahankan resep yang diwariskan oleh mertuanya.

Di situlah nilai pentingnya.

Sebuah makanan tradisional tidak hanya menyimpan rasa, tetapi juga menyimpan cerita keluarga, keterampilan membuat makanan, kebiasaan masyarakat, dan ingatan tentang suatu tempat.

Warisan Rasa dari Siatas Barita

Kue Putu Ompung Tonny Simorangkir menjadi salah satu contoh bagaimana kuliner sederhana dapat bertahan ketika ada generasi yang bersedia meneruskannya.

Dari sebuah usaha yang menurut pemberitaan telah berdiri sejak 1957, kue putu ini terus menjadi bagian dari kuliner Tarutung dan Siatas Barita.

Bagi masyarakat Tapanuli Utara, keberadaan makanan seperti ini patut dilihat bukan hanya sebagai peluang usaha, tetapi juga sebagai bagian dari warisan kuliner lokal.

Sebab ketika sebuah resep berhenti dibuat, yang hilang bukan hanya sebuah makanan.

Yang ikut hilang bisa jadi adalah sepotong cerita tentang kampung halaman.


Catatan sumber:
Artikel ini disusun berdasarkan pemberitaan Tobaria, 21 Juni 2021, yang secara spesifik menyebut Kue Putu Ompung Tonny Simorangkir berdiri sejak 1957, serta pemberitaan Batakita, 30 Agustus 2022, mengenai Kue Putu Simorangkir khas Tapanuli Utara. Klaim tahun 1957 dalam artikel ini diposisikan sebagai informasi yang diberitakan oleh kedua sumber tersebut, bukan sebagai hasil verifikasi arsip pendirian usaha.

Footer Promo / Iklan